Teddy Sutadi, Ahli Geologi dan Empu Pisau Kopassus

Nama Teddy Sutadi Kardin sudah mendunia terutama bagi di kalangan pecinta atau kolektor pisau khusus. Ia lah produsen pisau yang digunakan Koppasus, bahkan juga oleh US Special Forces yang pernah ikut membantu penggulingan rezim Presiden Irak Saddam Husein.

Teddy Sutadi yang merupakan pendiri perusahaan T. Kardin Pisau Indonesia merupakan seorang ahli geologi. Ia lulusan sarjana Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung (ITB).

Namun kecintaannya pada alam sudah terpupuk sejak ia kecil. Kondisi alam di tempat tinggalnya di Bandung Utara yang berbukit dan dikepung deretan gunung benar-benar menempa pola hidup Teddy. Kondisi alam itu pun menjadi tempat bermain sekaligus ajang menempa diri. Berkelana di hutan, berburu atau berkemah merupakan kegiatan yang sering dilakukan.

Menjalani pendidikan formal sejak SD hingga kuliah di Bandung yang juga merupakan kota kelahirannya, Teddy pun semakin senang bergaul dengan alam seperti melakukan eksplorasi ke sejumlah wilayah.

Terlebih dengan kehaliannya sebagai seorang geolog menuntut Teddy untuk terus melakukan penjelajahan, keluar masuk hutan, naik turun gunung dan sebagainya.

Bagi Teddy, eksplorasi selalu dilakukannya tidak bisa tidak meninggalkan pisau yang memang menjadi kebutuhan penting dalam penjelajahan alam.

Keahlian Teddy pun terasa semakin pas dengan pengalamannya menjadi salah satu anggota

pencinta alam Wanadri, yakni Perhimpunan Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung yang sangat terkenal di Indonesia bahkan ke mancanegara itu.

Pergelutan Teddy dengan bisnis pisau bukannya tanpa latar belakang. Aktivitas sebagai pecinta alam membuatnya sering bersingungan dengan pejabat tinggi militer. Terlebih sebagai seorang geolog mulai dari tahun 1976, Teddy sudah menjelajahi nusantara untuk melakukan penelitian geologi terutama ekplorasi minyak bumi dan sudah bekerja untuk perusahaan minyak seperti Pertamina, Elf Aquitane Indonesia, Mobil Oil, Huffco Brantas, Humpuss Patragas, dan beberapa perusahaan minyak lainnya.

Hingga pada suatu ketika, pada tahun 1988, Prabowo Subianto yang kemudian mantan Danjen Kopassus, memintanya untuk mengajari para prajurit bernavigasi yang saat itu masih merupakan ilmu yang belum banyak dikuasai prajurit. “Awalnya Pak Prabowo memesan pisau kepada saya untuk dihadiahkan ke pasukan khusus Amerika,” ujar Teddy.

Perkenalan antara Teddy dan Prabowo juga saat mereka berdua terjun di operasi pengamanan di Timor Timur yang kini berdiri sendiri dengan nama Timor Lorosae.  Teddy sendiri juga pernah dilibatkan dalam operasi militer yang dilakukan Angkatan Darat.

Tak hanya itu, Teddy juga pernah dilibatkan dalam kasus penyanderaan peneliti Ekspedisi Lorentz ’95 di hutan Jayawijaya Irian Jaya (sekarang Papua).

Prabowo juga meminta Teddy membantu Kopassus untuk membebaskan sandera dari tangan kelompok Organisasi Papua Merdeka (OPM) pimpinan Kelly Kwalik.

Usai operasi tersebut Teddy Kardin kembali diminta ke Kalimantan. Di sana ia memimpin 40 pasukan komando untuk melakukan penjelajahan dan pelacakan di hutan. Di dalam kegiatan tersebut juga ada pasukan elite (Special Forces) Amerika Serikat yang ikut mempelajari Survival dan Navigasi. Sumbangsih tersebut yang akhirnya Teddy Kardin dinobatkan sebagai warga kehormatan Komando Pasukan Khusus (Kopassus).

Tidak hanya di TNI Angkatan Darat, di Pasukan Khas (Paskhas) AU dan Brigade Mobil (Brimob), Teddy Kardin juga diminta untuk membagi ilmunya di bidang survival dan navigasi untuk pasukan mereka.

Dari latar belakang kecintaan terhadap pisau tersebut, Teddy Kardin pun mencoba merintis pendirian bengkel pisau buatan tangan yang berada di Bandung.

Pada awal tahun 1990, ia serius menekuni bisnis pembuatan pisau. Teddy pun bekerja keras dan melakukan eksperimen yang tiada henti-hentinya.

Hasil kerja keras tersebut tidak sia-sia. Dalam waktu beberapa tahun pisau produksi Teddy Kardin dikenal luas oleh para pencinta pisau dan mendapat pengakuan terutama kualitas, ketajaman, kekuatan, keindahan dan kerapihan keterampilan karyawannya.

Mengawali bisnis pisau tahun 1990, bengkel Teddy sekarang telah memiliki lebih dari 40 karyawan yang mampu memproduksi kurang lebih 300 bilah pisau dalam 1 bulan.

Pisau-pisau yang diproduksi antara lain Survival knife, Skinner, Kukri, Commando, Special Force, Hunting Knife, Golok, Katana, pisau dapur, termasuk pisau-pisau tradisional seperti Kujang, Badik, Rencong, Mandau dan lain sebagainya.

Pisau buatan Teddy tidak hanya dicari kolektor pisau dalam negeri. Para kolektor luar negeri juga ikut berburu. Ini karena bahan baku yang digunakan sudah standar dengan aturan AISI (American Iron and Steel Institute). Teddy juga menggunakan baja Damascus yang sudah dikenal luas oleh pencinta pisau.

Inilah sebabnya pisau T. Kardin Knives juga digunakan tentara militer Amerika Serikat dan Jordania.

Teddy mengatakan, dalam memroduksi pisaunya, tidaklah dilakukan dengan massal. Pasalnya, produksi beragam pisau ini masih menggunakan cara tradisional. “Secara keseluruhan, pembuatan pisau-pisau kami banyak dilakukan secara handmade,” kata Teddy. Cara pembuatan yang tradisional inilah yang membedakan produk T Kardin Knives dengan pisau buatan pabrikan. Ada yang bilang, pisau buatan Teddy ini lebih memiliki jiwa dan rasa seni yang tinggi.

Teddy Kardin  yang menyukai pisau jenis Buffalo Skinner dan Bowie yang sangat melegenda mengatakan, salah seorang pelanggannya asal Canary Islands, dekat Maroko, Miguel Carillo Diaz mengakui kualitas pisaunya. “Belati yang baru saja saya terima kualitasnya lebih tinggi dibandingkan dengan belati sejenis yang biasa saya lihat di toko-toko pisau di beberapa negara, di antaranya buatan Sheffield, Inggris, yang khusus untuk serdadu Inggris. Tapi buatan Anda lebih Baik,” ujar Miguel Carillo Diaz.

Selain mutu yang lebih baik, atau setidaknya sejajar, daya saing lainnya didorong oleh harganya yang jauh lebih murah daripada produk pisau luar negeri. Ambil contoh saja, pisau Damaskus style harganya sekitar 2.000 dollar AS atau sekitar Rp 17,4 juta, sementara benda tajam sejenis produksi Hegarmanah berharga Rp 600 ribu saja.

Hingga kini sudah sekitar 50 desain pisau yang berkelebat meluncur dari bengkel kerjanya di lereng sebuah bukit tak jauh dari rumah Teddy. Kebanyakan dari jenis skinner atau bowie yang tergolong pisau komersial. Sisanya dari jenis tusuk macam belati atau pisau komando, dan jenis tebas seperti golok. (faz, diolah dari berbagai sumber)

Organisasi:
– Pramuka
– Resimen Mahasiswa
– Perhimpunan Penempuh Rimba Pendaki Gunung WANADRI
– Para Club Indonesia
– ITB Sky Diver
– Perbakin

Sumbangsih di Militer:
– Pembekalan Pra Tugas Analisa Peta
Yonif Linud 328, 330, 312, 327, 321
Brimob Jabar, Paskhas, Kopassus, Rajawali (1987-2004)
– Operasi Timor-Timur sebagai TBO–Analisa Ops Yonif Linud 328 (1988)
– Instruktur Survival–Sanjak Latgab Kopassus–Special Air Service Australia (1991-1993)
– Analis Ops Pembebasan Sandera Wapenduma–Papua
– Latgab Kopassus – Special Force
– Ekspedisi Mahakam–Barito dan latihan Sanjak Survival di Kalimantan
– Analis Ops untuk Koopskam Aceh dalam Satgas I serta Raider 300 (2004)

Sumber:

http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=88bc621c770ae8ca804090205cc1688d&jenis=e4da3b7fbbce2345d7772b0674a318d5

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s